Ebiet G Ade – Cintaku Kandas Di Rerumputan

aku mulai resah menunggu engkau datang
berpita jingga, sepatu hitam
kau bawa cinta yang ku pesan

aku mulai ragu dengan keberanianku
berapa cinta kau tawarkan
berapa banyak yang kau minta

aku merasa terjebak dalam lingkaran membiusku
namun dorongan jiwa tak sanggup ku tahan
iblis manakah yang merasuk aku memilih jalan ini
mungkin karena aku merasa tak punya apa-apa

dan ketika engkau datang, aku pejamkan mataku
samar ku dengar suaramu lembut memanggil namaku
seketika sukmaku melambung
ku putuskan untuk berlari menghindarimu sejauh mungkin
cintaku kandas di rerumputan

aku mulai sadar cinta tak mungkin ku kejar
akan ku tunggu, harus ku tunggu sampai saatnya giliranku

dan ketika engkau datang, aku pejamkan mataku
samar ku dengar suaramu lembut memanggil namaku
seketika sukmaku melambung
ku putuskan untuk berlari menghindarimu sejauh mungkin
cintaku kandas di rerumputan

Ebiet G Ade – Berita Kepada Kawan

perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
banyak cerita yang mestinya kau saksikan
di tanah kering bebatuan

tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
hati tergetar menapak kering rerumputan
perjalanan inipun seperti jadi saksi
gembala kecil menangis sedih

kawan coba dengar apa jawabnya
ketika ia ku tanya mengapa
bapak ibunya telah lama mati
ditelan bencana tanah ini

sesampainya di laut ku kabarkan semuanya
kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
tetapi semua diam, tetapi semua bisu
tinggallah ku sendiri terpaku menatap langit

barangkali di sana ada jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana

mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

kawan coba dengar apa jawabnya
ketika ia ku tanya mengapa
bapak ibunya telah lama mati
ditelan bencana tanah ini

sesampainya di laut ku kabarkan semuanya
kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
tetapi semua diam, tetapi semua bisu
tinggallah ku sendiri terpaku menatap langit

barangkali di sana ada jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana

mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Ebiet G Ade – Lagu Untuk Sebuah Nama

mengapa jiwaku mesti bergetar sedang musikpun manis ku dengar
mungkin karena kulihat lagi lentik bulu matamu
bibirmu dan rambutmu yang kau biarkan jatuh berderai di keningmu
makin mengajakku terpana, kau goreskan gita cinta

mengapa aku mesti duduk disini sedang kau tepat di depanku
mestinya kau berdiri berjalan ke depanmu
ku sapa dan ku nikmati wajahmu atau ku isyaratkan cinta
tapi semua tak ku lakukan, kata orang cinta mesti berkorban

mengapa dadaku mesti berguncang bila ku sebutkan namamu
sedang kau diciptakan bukanlah untukku
itu pasti tapi aku tak mau perduli sebab cinta bukan mesti bersatu
biar ku cumbui bayanganmu dan ku sandarkan harapanku

Ebiet G Ade – Masih Ada Waktu

bila masih mungkin kita menorehkan bakti
atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
mumpung masih ada kesempatan buat kita
mengumpulkan bekal perjalanan abadi

kita pasti ingat tragedi yang memilukan
kenapa harus mereka yang tertimbun tanah
tentu ada hikmah yang harus kita petik
atas nama jiwa mari heningkan cipta

kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung

hanya atas kasihNya, hanya atas kehendakNya
kita masih bertemu matahari
kepada rumpun ilalang, kepada bintang gemintang
kita dapat mencoba meminjam catatannya

sampai kapankah gerangan waktu yang masih tersisa
semuanya menggeleng, semua terdiam
semuanya menjawab tak mengerti
yang terbaik hanyalah segeralah bersujud
mumpung kita masih diberi waktu

kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung

hanya atas kasihNya, hanya atas kehendakNya
kita masih bertemu matahari
kepada rumpun ilalang, kepada bintang gemintang
kita dapat mencoba meminjam catatannya

sampai kapankah gerangan waktu yang masih tersisa
semuanya menggeleng, semua terdiam
semuanya menjawab tak mengerti
yang terbaik hanyalah segeralah bersujud
mumpung kita masih diberi waktu

Ebiet G Ade – Seraut Wajah

wajah yang selalu dilumuri senyum
legam tersengat terik matahari
keperkasaannya tak memudar
terbaca dari garis-garis di dagu

waktu telah menggilas semuanya
ia tinggal punya jiwa
pengorbanan yang tak sia-sia
untuk negeri yang dicintai, dikasihi

tangan dan kaki rela kau serahkan
darah keringat rela kau cucurkan
bukan hanya untuk ukir namamu
ikhlas demi langit bumi
bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah

wajah yang tak pernah mengeluh
tegar dalam sikap sempurna, pantang menyerah

tangan dan kaki rela kau serahkan
darah keringat rela kau cucurkan
bukan hanya untuk ukir namamu
ikhlas demi langit bumi
bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah
merah merdeka, putih merdeka, warna merdeka