Franky Sahilatua – Bis Kota

Berjalan di bawah lorong pertokoan
Di Surabaya yang panas
Debu-debu ramai beterbangan
Di hempas oleh bis kota

Bis kota sudah miring ke kiri
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit disela-sela
Ketiak para penumpang yang bergantungan

Bis kota sudah miring ke kiri
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit disela-sela
Ketiak para penumpang yang bergantungan

Berjalan di bawah lorong pertokoan
Di Surabaya yang panas
Debu-debu ramai beterbangan
Di hempas oleh bis kota

Franky Sahilatua – Panen Telah Datang

Sekumpul petani di sawah
Senda gurau metik padi
Kadang berdiri kadang membungkuk
Memakai topi ledok

Teringat cangkul kaki berlumpur
Mereka memetik terus
Kala seribu padi yang kuning
Menanti untuk di sabit

Burung bangau terbang menari
Gembira mengikat kepala
Anak desa telanjang dada
Duduk di persimpangan dekat sawah
Sambil bermain harmonika

Teringat cangkul kaki berlumpur
Mereka memetik terus
Kala seribu padi yang kuning
Menanti untuk di sabit

Burung bangau terbang menari
Gembira mengikat kepala
Anak desa telanjang dada
Duduk di persimpangan dekat sawah
Sambil bermain harmonika

Franky Sahilatua – Rumah Kecil Di Pinggir Sungai

Kemanapun aku memandang
Di sekitar rumahku di dekat sungai
Cuaca redup melarutkan s’gala beban

Bila hari-hari yang mengalir
Bagai dedaunan gugur hanyut di sungai
Dalam hening aku coba tentram dan bahagia

Hanyut bersama kesenduan
Kenanganpun terus mencair
Ku dengar engkau di desah angin
Pada rintih gerimis
Datang, datanglah lagi..
Datang, datanglah lagi..
Datang.., datanglah lagi..

Kicau burungpun telah hilang
Ketika sunyi menyelimuti hulu
Pintu-pintu rumah tetangga telah tertutup

Hanyut bersama kesenduan
Kenanganpun terus mencair
Ku dengar engkau di desah angin
Pada rintih gerimis
Datang, datanglah lagi..
Datang, datanglah lagi..
Datang.., datanglah lagi..

Franky Sahilatua – Siti Julaika

Gadis berkebaya naik sepeda
Bernama Siti Julaika
Dari keluarga rakyat jelata
Gadis berkebaya Siti Julaika la la la la

Ia bekerja di sebuah pabrik gula
Tenaganya hanya di bayar murah
Durasim pacarnya pun kerja di sana

Setiap bulan menabung menabung bersama
Untuk sebuah rumah tinggal
Ketika musim bunga serbuk tiba
Mereka memotong tangkai telaga
Dan munjualnya untuk mainan anak
Mereka rindu anak-anak

Gadis berkebaya Siti Julaika lala la la

Mereka menikah bulan berikutnya
Dengan upacara sederhana saja
Dengan upah kerja sedikit saja

Setiap bulan menabung menabung bersama
Untuk sebuah rumah cinta
Ketika lahir anak pertama
Mereka sudah tidak bekerja
Pabrik gula kurangi tenaga kerja
Mesin-mesin telah tiba

Dudu du du du, dudu du du du..
Dudu du du du, dudu du du du..

  • Page 1 of 2
  • 1
  • 2
  • >