Iwan Fals – Ujung Aspal Pondok Gede

di kamar ini aku dilahirkan
di bale bambu buah tangan bapakku
di rumah ini aku dibesarkan
dibelai mesra lentik jari ibu

nama dusunku ujung aspal pondok gede
rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun
kambing sembilan motor tiga bapak punya
ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya

sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi

di depan masjid samping rumah wakil pak lurah
tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari
namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri
satu persatu sahabat pergi dan takkan pernah kembali

sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi

Iwan Fals – Mata Indah Bola Pingpong

pria mana yang tak suka senyummu juwita
kalau ada yang tak suka mungkin sedang goblok
engkau baik, engkau cantik, kau wanita, aku cinta

mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong
bolehkah aku membelai hidungmu yang aduhai
engkau baik, engkau cantik, kau wanita, aku puja

jangan marah kalau ku goda sebab pantas kau digoda
salah sendiri kau manis, punya wajah teramat manis
wajar saja kalau ku ganggu, sampai kapan pun ku rindu
lepaskan tawamu, nona, agar tak murung dunia

engkau baik, engkau cantik, kau wanita, aku cinta
aku puja kau betina, bukan gombal, aku yang gila

jangan marah kalau ku goda sebab pantas kau digoda
salah sendiri kau manis, punya wajah teramat manis
wajar saja kalau ku ganggu, biar mampus aku rindu
lepaskan tawamu, nona, agar tak murung dunia

mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong
bolehkah aku membelai hidungmu yang aduhai
mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong
bolehkah aku membelai bibirmu yang aduhai

mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong
bolehkah aku membelai pipimu yang aduhai
mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong
bolehkah aku membelai jidatmu yang aduhai