Ratih Purwasih – Hidup Terkekang

apakah ku tak boleh mengenal dunia ini
haruskah aku hidup menyendiri, sendiri dan menyepi
apakah ku tak boleh mengenal kasih
kasih sayang dari seseorang yang ku cintai

hidup bagaikan seekor burung
dalam sangkar yang terkekang
biar sangkarku terbuat dari emas
lebih baik ku hidup di hutan buas

apakah ku tak boleh mengenal cinta
haruskah daku hidup menyendiri, sendiri dan menyepi

hidup bagaikan seekor burung
dalam sangkar yang terkekang
biar sangkarku terbuat dari emas
lebih baik ku hidup di hutan buas

apakah ku tak boleh mengenal cinta
haruskah daku hidup menyendiri, sendiri dan menyepi

oh ku mau bebas, bebas di alam ini
bebas mencintai kasihku, bebas mencintai kasihku
bebas mencintai kasihku, bebas mencintai kasihku

Ratih Purwasih – Mungkinkah Ini Nasibku

semula tak pernah ku sangka
akan begini nasib cinta kita
semula tak pernah ku duga
kau yang ku sayang pandainya berdusta

bukan dari teman ku dengar kau berkencan
tapi mata ini melihat sendiri ooh

tega kau lakukan itu
apa sih kurangnya diri ini
hinakah sudah paras wajah ini
hingga kau mencari yang lain

mungkinkah mungkin ini nasibku
harus gagal malam ini
mungkinkah mungkin ini takdirku
harus luka malam ini

musnahlah sudah harapan di hati
bersamamu itu tak mungkin lagi

kalau memang harus begini
kau dan aku terpisah karena dusta
cukup satu kali retak hati ini
jangan sampai terulang kembali

mungkinkah mungkin ini nasibku
harus gagal malam ini
mungkinkah mungkin ini takdirku
harus luka malam ini

musnahlah sudah harapan di hati
bersamamu itu tak mungkin lagi

mungkinkah mungkin ini nasibku
harus gagal malam ini
mungkinkah mungkin ini takdirku
harus luka malam ini

musnahlah sudah harapan di hati
bersamamu itu tak mungkin lagi

Ratih Purwasih – Mengapa Harus Jumpa

mengapakah kita harus berjumpa
di kala kau tengah berdua
berdosakah diriku kepadanya
‘pabila aku mencintaimu

namun kini apalah dayaku
semua kini telah terjadi
walaupun kau sayang kepadaku
tak mungkin ooh tak mungkin

oh Tuhan Yang Kuasa berilah petunjuk-Mu
betapa pedih ku rasakan kasihku tak sampai

kembalilah kau kepadanya, sayang
biarkanlah kini ku sendiri
doaku selalu menyertai
semoga kau berdua bahagia

namun kini apalah dayaku
semua kini telah terjadi
walaupun kau sayang kepadaku
tak mungkin ooh tak mungkin

oh Tuhan Yang Kuasa berilah petunjuk-Mu
betapa pedih ku rasakan kasihku tak sampai
oh Tuhan Yang Kuasa berilah petunjuk-Mu
betapa pedih ku rasakan kasihku tak sampai

Ratih Purwasih – Inginnya Begini Jadinya Begitu

sudah ku buatkan kopi yang manis
kau minta susu
suah ku berikan kau tangga
kau pinta tali

ada-ada saja yang ada kau pun tak mau
yang tak ada kau cari-cari untuk apa

sudah ku beri kau baju yang biru
kau pinta yang merah
biasanya putih sekarang
mau yang hitam

ada-ada saja tutup pintu tapi buka jendela
bagai kau lempar batu-batu sembunyi tangan

inginnya ku tutup mataku ini
biar tak ku lihat engkau di situ
inginnya begini jadinya begitu, mana ku tahu

inginnya ku tutup telinga ini
biar tak ku dengar engkau selalu
tapi ku lupa ada yang terbuka, naluriku

inginnya begini, jadinya begitu
mana ku tahu, aku tak tahu, jadi begitu

Ratih Purwasih – Ayah

dimana akan ku cari
aku menangis seorang diri
hatiku selalu ingin bertemu
untukmu aku bernyanyi

untuk ayah tercinta aku ingin bernyanyi
walau air mata di pipiku
ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa
walau hanya dalam mimpi

lihatlah hari berganti
namun tiada seindah dulu
datanglah aku ingin bertemu
untukmu aku bernyanyi

untuk ayah tercinta aku ingin bernyanyi
walau air mata di pipiku
ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa
walau hanya dalam mimpi